Minggu, 21 November 2010

Filsafat Pendidikan

Filsafat Pendidikan dan Implikasinya 

Pendahuluan
Filsafat adalah berfikir radikal. Berfikir radikal adalah berfikir hingga ke “radik”, akar. Jadi berfikir filsafati dalam pendidikan adalah berfikir mengakar/menuju akar atau intisari pendidikan. Pertanyan filsafati biasanya berkisar pada tiga hal; ontologis, epistomologis dan aksiologis. Pertanyaan ontologis adalah pertanyaan yang menggugat identitas; sebetulnya pendidikan itu apa ?. Sedangkan pertanyaan epistemologis adalah pertanyaan yang menggugat cara; bagaimana suatu pendidikan yang “apa”-nya sudah diketahui, dijalankan ? Dan yang ketiga (ontologis) adalah pertanyaan yang menggugat tujuan; untuk apa suatu pendidikan itu digelar ?
Makalah singkat dan sederhana --yang dibuat agak terburu-buru-- ini berusaha untuk menjelaskan tiga pertanyaan itu semua.
Semoga bisa memperkaya wawasan kita sebagai para pekerja pendidikan (education workers) !

Tiga Paradigma Utama Pendidikan
Paradigma adalah world view, cara memandang dunia. Dari suatu paradigma akan terbentuk perilaku yang mencerminkan paradigma yang dianut. Bagaimana suatu pendidikan sebagai sebuah perilaku kolektif dan sistemik memandang dunia, adalah pertanyaan yang harus dijawab sebelum kita menentukan variabel-variabel pendidikan lainnya. Paradigma pendidikan ini ditentukan oleh para pemegang kebijakan sistem pendidikan (stake holder) seperti, pemerintah, kepala sekolah, pemilik yayasan, pimpinan organisasi, dan sebagainya.
Dalam menjawab pertanyaan, bagaimana pendidikan memandang dunia, ada tiga jawaban yang lazimnya muncul. Yang pertama, adalah sistem pendidikan yang memandang realitas luar sebagai sesuatu yang given, telah berlaku dari sononya, tidak bisa/perlu dirubah, bahkan perlu dilestarikan. Inilah sistem pendidikan yang pro status quo. Para ahli filsafat pendidikan mengistilahkannya dengan Pendidikan Konservatif.
Pendidikan konsevatif ini lazim diberlakukan pada negara-negara dengan rezim yang otoriter. Rezim yang menggunakan kekuatan represif untuk membungkam mulut rakyatnya. Rezim ini berusaha untuk mengelabui masyarakatnya bahwa ketidakadilan dan penyakit sosial yang ada (seperti: pengangguran, kriminalitas, konflik sosial, kemiskinan, kebodohan) adalah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, sebagai sebuah determinasi historis (takdir sejarah). Pendidikan ini juga berusaha untuk memisahkan peran pendidikan dengan realitas luar pendidikan. Pendidikan hidup dalam menara gading yang tak tersentuh (karena mahalnya pendidikan) dan tak menyentuh masyarakat banyak. Dari sistem pendidikan seperti inilah akan kita dapati output pendidikan yang gamang ketika kembali ke realitas sosialnya. Persis seperti cerita putra asli pedalaman kalimantan yang pergi menempuh pendidikan di pulau Jawa dan ketika pulang kembali ke Kalimantan hanya menjadi “sampah” masyarakatnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Berburu tidak bisa. Bertani/berladang tidak bisa. Bahkan, berenang saja, sebagai suatu keahlian wajib di Kalimantan yang banyak sungai, kagak gape !
Paradigma pendidikan yang kedua adalah paradigma liberal. Paradigma ini memandang bahwa ketidakadilan sosial terjadi karena kelalaian manusia itu sendiri. Kalau ada pengangguran maka itu adalah kesalahan manusianya yang kurang kreatif, tidak berjiwa wirausaha dan malas. Kalau ada kemiskinan kota (poor urban) itu disebabkan karena manusianya yang malas berusaha di desa dan maunya hidup enak saja di kota. Pendidikan ini memang lebih memusatkan pehatiannya pada diri manusia. Untuk itu pendidikan dengan paradigma ini banyak menggelar praktek-praktek pengembangan manusia (istilah yang biasa dipakai adalah human development, self management, melejitkan potensi diri dan sejenisnya). Dari paradigma liberal ini pula lahir pelatihan/training semacam AMT (Achievement Motivation Training) yang disusun oleh David Mc Leland. Pelatihan ini berasumsi bahwa kemelaratan masyarakat disebabkan oleh kurang dimilikinya need of achievement (virus berprestasi) dalam masyarakat itu. Untuk itu training-training AMT banyak digelar oleh negara-negara kaya di negara-negara dunia ketiga (development and under development countries) untuk menyebarkan virus berprestasi di tengah-tengah rakyatnya.
Pendidikan liberal ternyata tidak berperan banyak untuk mengatasi ketimpangan sosial. Ideologi developmentalisme yang berada dibelakang paradigma pendidikan ini malah melahirkan sekelompok masyarakat elit baru yang tidak mau menyentuh masyarakat yang ada dibawahnya. Efek menetes yang diyakini oleh developmentalisme ternyata hanyalah khayalan. Masyarakat bawah enggan disentuh karena dipandang mereka sebagai masyarakat yang malas.
Inilah pola pendidikan yang blaming the victim !
Paradigma pendidikan yang ketiga adalah paradigma pendidikan kritis. Pendidikan kritis memandang, bahwa pendidikan harus secara utuh meresapi dan menyatu di tengah-tengah masyarakatnya. Paradigma ini memandang akar ketidakadilan sosial adalah sistem yang berlaku pada masyarakat itu. Sistem itu dapat berupa sistem politik (yang otoriter dan anti demokrasi), sistem sosial (yang melestarikan kasta-kasta dan menghambat laju mobilitas sosial), sistem ekonomi (yang kapitalistik, dan anti kerakyatan) sistem budaya (yang patriaki dan anti egaliter), bahkan sistem pendidikan itu sendiri (yang menjadi alat pengukuh kekuasaan dan pro status quo). Untuk itu pendidikan kritis berupaya melahirkan individu-individu (dan akhirnya masyarakat) yang mampu mendekonstruksi dan merekonstruksi sistem yang ada. Pola pendidikan inilah yang berupaya untuk diperjuangkan oleh Paulo Freire, seorang ahli pendidikan dari Amerika Latin yang berupaya untuk menghapuskan buta huruf sekaligus menggali akar kemelaratan sosial di Brazilia.
Pola pendidikan yang kritis ini nyatanya tidak diminati oleh para ahli pendidikan (yang memang produk dari pendidikan konservatif) sehingga bentuk prakteknya jarang kita saksikan di Indonesia. Pendidikan ini lebih populer di kalangan aktifis LSM/NGO “kiri” yang anti kemapanan dan pro HAM. Karena itu pula, bangunan ilmiah dari paradigma kritis ini masih terus tumbuh dan berkembang.

Kesadaran Manusia
Setiap praktek pendidikan membentuk kesadaran. Kesadaran ini dapat didefinisikan juga sebagai pandangan hidup yang menjadi pola (pattern) yang mempengaruhi penerimaan pengetahuan, sikap dan perilaku yang merupakan hasil transfer dari pendidikan itu. Secara komunal, kesadaran ini akan menjadi kesadaran masyarakat yang mempengaruhi pola hidup masyarakat.
Menurut analisis Freire ada tiga kesadaran yang menjadi turunan dari tiga paradigma pendidikan di atas.
Pertama, adalah kesadaran magis. Secara arkeologis ilmu pengetahuan, kesadaran magis terbentuk pada masyarakat yang masih mempercayai hal-hal yang supranatural. Masyarakat ini meyakini bahwa kekuatan terbesar yang mempengaruhi kehidupan mereka adalah hal-hal yang gaib, mistis, supranatural (luar alam). Sehingga hal-hal gaib ini harus di-“tundukkan” dengan sesajen dan do’a-do’a. Kuntowijoyo menyebut masyarakat ini sebagai masyarakat pada tahap mitos. Masyarakat dengan kesadaran magis, adalah masyarakat yang deterministik, pasrah pada takdir. Masyarakat ini akhirnya, nrimo saja terhadap ketidak adilan sosial yang terjadi. Di tinjau dari paradigma pendidikan, masyarakat dengan kesadaran magis adalah masyarakat hasil dari pendidikan konservatif.
Kedua, adalah kesadaran naif. Masyarakat dengan kesadaran naif adalah masyarakat yang memandang bahwa setiap ketidakadilan sosial berakar dari kelemahan manusia. Secara arkeologis ilmu pengetahuan, masyarakat dengan kesadaran naif terbentuk pada masyarakat yang percaya bahwa kekuatan natural (alam) adalah kekuatan terbesar yang mempengaruhi segala masalah di dunia ini. Untuk itu kekuatan alam harus ditundukkan oleh tangan manusia. Bila alam tak bisa ditundukkan oleh manusia, yang itu akan mengakibatkan kekacauan, maka manusia itulah yang lalai dan lemah. Untuk itulah maka diciptakan mesin-mesin yang berfungsi untuk membantu manusia menundukkan alam. Dalam era penciptaan mesin-mesin yang menggantikan manusia itulah muncul ideologi-ideologi politik dan sosial besar dunia (kapitalisme dan sosialisme). Sehingga, Kuntowijoyo mengistilahkan masyarakat pada tahap ini adalah masyarakat pada tahap ideologis. Pendidikan paradigma kedua (liberal) adalah pendidikan yang memproduksi masyarakat dengan kesadaran ini.
Ketiga, adalah kesadaran kritis. Yaitu masyarakat yang menyadari bahwa kekacauan di dunia ini diciptakan oleh sistem yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Secara arkeologis ilmu pengetahuan, masyarakat kritis adalah masyarakat yang keyakinannya telah bergeser dari kepercayaan kekuatan terbesarnya kepada alam menuju kekuatan manusia. Untuk itu kekuatan manusia yang menjelma pada sistem ini harus ditundukkan dengan “ilmu” dan kesadaran kritis. Karena itu pula Kuntowijoyo menyebut masyarakat pada tahap ini dengan istilah “masyarakat ilmu”. Hanya pendidikan kritis-lah yang dapat menghasilkan kesadaran kritis ini.

Tujuan Pendidikan dan Teori Belajar
Secara umum ada tiga tujuan pendidikan yang biasanya ingin dicapai oleh para pelaku pendidikan. Hal ini berdasarkan pada tiga tindakan sosial (social act) utama manusia yang diungkapkan Jurgen Habermas. Tiga tindakan itu adalah; tindakan karya (work), tindakan komunikasi dan tindakan pembebasan.
Pendidikan yang bertujuan karya (work) adalah pendidikan yang bertujuan untuk menghasilkan manusia-manusia “siap guna”. Dapat bekerja, baik sendiri maupun bersama-sama untuk melestarikan dan memajukan sistem yang telah ada. Secara ekstrim, pendidikan yang bertujuan karya ini akhirnya akan menciptakan manusia yang cinta pada benda mati (nekrofili) dan tidak cinta pada manusia yang lain (biofili). Manusia nekrofili akan merasa utuh kemanusiaannya jika memiliki harta kekayaan dan kekuasaan, meskipun tidak dicintai oleh manusia lainnya.
Pendidikan dan pelatihan yang belangsung selama ini hampir 90% bermain pada wilayah kekaryaan ini. Secara umum pendidikan dengan tujuan kekaryaan ini memakai behaviorisme sebagai landasan teori belajarnya, disamping juga sedikit teori kognitif dan humanistik.
Berikut ini simpul-simpul teori-teori belajar tersebut menurut Ernest Hilgard dan Gordon Bower dari Standford University :
Dari teori S-R :
 Murid harus aktif
 Frekuensi latihan yang cukup tinggi sangat penting untuk memperoleh ketrampilan dan retensi (penguatan daya ingatan) dilakukan belajar secara berulang-ulang.
 Sangat diperlukan re-enforcement: murid yang dapat mengulang dengan baik dan menjawab dengan benar dapat diberi ganjaran.
 Generalisasi dan diskriminasi memberi kesan akan pentingnya praktek dalam konteks yang bervariasi, sehingga belajar adalah penting bagi jajaran stimuli yang lebih luas.
 Tingkah laku yang baru dicapai lewat peniruan model, pengenalan dan pembentukan tingkah laku,
Drive state diperlukan juga, tetapi ini berbeda dari sikap, atau dalam drive state ini mereka tidak perlu menyesuaikan secara keseluruhan pada prinsip-prinsip drive education yang didasarkan pada eksperimen “penghilangan makanan”.
Dari teori kognitif :
 Organisasi pengetahuan yang akan disajikan tidak mengalami arbitrasi. Prosedur penyajian materi tidak sekedar berlangsung dari yang sederhana hingga yang kompleks, tetapi dari keseluruhan sampel sampai keseluruhan yang lebih kompleks.
 Secara kultural belajar relatif. Situasi belajar dipengaruhi oleh kebudayaan secara luas maupun oleh sub-kebudayaan dimana orang merasa memiliki.
Cognitif feedback semestinya mengkonfirmasikan pengetahuan yang benar dan membuat koreksi terhadap belajar yang salah. Murid mengusahakan sesuatu secara profesional dan kemudian menerima atau menolak apa-apa yang dikerjakan atas dasar konsekuensi-konsekuensi.
 Penentuan tujuan belajar oleh murid sangat penting sebagai motivasi belajar, keberhasilan dan kegagalan belajar itu sangat menentukan bagaimana ia menetapkan tujuan-tujuan di masa yang akan datang.
 Pemikiran yang berbeda-beda yang mengacu pada pemilihan alternatif perlu dikembangkan secara terpadu dan hanya mempunyai satu cara yang logis untuk satu jawaban yang benar.
Dari teori motivasi dan kepribadian :
 Memperhatikan kemampuan masing-masing murid sangat penting. Rata-rata cara dan waktu belajar masing-masing individu sehingga harus diakomodasikan dalam desain training.
 Perkembangan setelah bayi lahir, pengaruh keturunan, serta bakat dan kemampuan sama pentingnya untuk diperhatikan.
 Tingkat ketegangan (anxiety) mempengaruhi belajar manusia antara satu individu dan yang lainnya.
 Situasi yang sama mungkin saja menghasilkan motivasi yang berbeda-beda, tergantung apakah mereka diarahkan untuk kebutuhan afiliasi atau pencapaian tujuan.
 Organisasi motif dan nilai yang terkandung dalam individu sesuai dengan cara belajarnya. Orang cenderung belajar apa-apa yang dipandang perlu bagi khusus dirinya.
Tujuan pendidikan yang kedua adalah interaksi atau komunikasi. Pendidikan ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang egaliter yang mampu bekerjasama dan berinteraksi untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam dunia industri, pelatihan komunikasi juga kerap diselenggarakan namun dalam kaitannya sebagai komplemen dari training ke-karya-an.
Pendidikan komunikasi meniscayakan lingkungan belajar yang saling menghormati, menghargai, saling terbuka, dan bebas dari saling menghujat. Dalam lingkungan belajar yang emansipatoris itulah akan muncul segala potensi-potensi individu yang dikelola sedemikian sehingga menjadi kekuatan kelompok. Pendidikan ini, bila dilepaskan dari kepentingan kapitalisme, dapat menghantarkan pesertanya menjadi manusia-manusia biofili, manusia yang lebih menghargai nilai kemanusiaannya manusia yang lain.
Pendidikan komunikasi sebagai wahana pengelolaan kekuatan individu menjadi kekuatan kelompok (group dynamic) memakai teori psikologi Gestalt sebagai teori belajarnya. Psikologi Gestalt diciptakan oleh Kurt Lewin dengan simpul-simpul pemikiran sebagai berikut :
 Inti dari konsep pengaruh medan adalah, “Sebuah lingkungan selalu beada dalam pengaruh kekuatan medan”. Istilah kekuatan medan diambil dari teori medan magnet ilmu fisika, yang dalam medan magnet pusat kekuatan terletak pada butir-butir magnet yang masing-masing mempunyai daya dorong dan daya tarik terhadap satu sama lainnya, sedangkan pada kelompok manusia, pusat kekuatan medan terletak pada aktor-aktor secara individual yang berada di suatu lingkungan yang masing-masing memiliki tujuan.
 Lewin menjelaskan bahwa perilaku seseorang merupakan fungsi dari kepribadian (personality) dan pengaruh lingkungan (environment) sekitarnya. B = f (P.E)
 Menurut Lewin ada tiga kekuatan yang berpengaruh dalam suatu medan. Yaitu aprreciation (-), influence (+) dan controll (-/+).
 Totalitas dari ketiga kekuatan di atas menciptakan medan yang meneukan jalannnya proses interaksi sosial, yang disebut dengan group dynamic
Tujuan pendidikan yang ketiga adalah pembebasan. Pendidikan pembebasan bertujuan agar manusia tidak hanya menyadari kekuatan-kekuatan individunya (yang dilatih dalam training kekaryaan), namun juga menyadari kekuatan-kekuatan kelompoknya (yang diasah dalam training interaksi), dan realitas struktural yang melingkupinya, sehingga mereka dapat membebaskan diri dari struktur yang membelenggunya.
Dalam praktiknya, pendidikan pembebasan lebih banyak memakai asumsi-asumsi training untuk berinteraksi, sehingga seringkali training interaksi dan pembebasan berbaur menjadi satu tema, “participatory learning”.
Bila training untuk interaksi sulit ditemui maka training untuk pembebasan lebih sulit lagi untuk dijumpai dan didapatkan contohnya. Namun, sekali lagi literatur-literatur dari Paulo Freire dapat kita jadikan rujukan dalam menggagas training perubahan di masyarakat kita.

Makna Lambang Paskibra


MAKNA LAMBANG PASKIBRA


Setangkai bunga teratai yang mulai mekar dan dikelilingi oleh sebuah gelang rantai yang mana mata rantainya berbentuk bulat dan belah ketupat yang berjumlah 16 mata rantai bulat dan 16 mata rantai belah ketupat.
Makna dari bentuk lambing tersebut adalah :
a.      Lambing berupa bunga teratai yang tumbuh dari lumpur atau tanah dan berkembang di atas air, hal ini bermakna bahwa pemuda yang tumbuh dari bawah atau orang biasa dari tanah air yang sedang berkembang dan membangun pemuda yang tumbuh dari tanah air.
b.      Bunga teratai berdaun 3 helai keatas (mahkota bunga) bermakna Belajar, Bekerja dan Berbakti.
c.      Bungan teratai berdaun 3 helai mendatar (kelopak bunga) bermakna Aktif, Disiplin dan Gembira.
d.      Mata rantai berkaitan melambangkan persaudaraan yang akrab sesama generasi bangsa Indonesia yang berada di pelosok penjuru (16 penjuru mata angin) tnah air. Rantai persaudaraan ini tanpa memandang asal suku, agama, status social da golongan akan membentuk jalinan mata rantai persaudaraan sebangsa yang kokoh atau kuat sehingga mampu merangkai bentuk pengaruh dari luar, memperkuat ketahanan nasional melalui jiwa dan semangat kesatuan dan persatuan yang telah tertanam dalam pada setiap anggota Paskibra.

Motto dan Janji PASKIBRA


MOTTO PASKIBRA

PASKIBRA TIDAK TAKUT SALAH
PASKIBRA TIDAK TAKUT KALAH
PASKIBRA TIDAK TAKUT JATUH
PASKIBRA TIDAK TAKUT MATI

TAKUT MATI JANGAN HIDUP
TAKUT HIDUP MATI SEKALIAN

KALAU ADA SERIBU KAMI ADALAH SATU
KALAU ADA SERATUS KAMI TETAP SATU
KALAU ADA SEPULUH KAMI YAKIN TETAP SATU
KALAU ADA SATU, YA ITULAH KAMI

JANJI PASKIBRA

KAMI DISINI DAN SEKARANG JUGA
BERNIAT DAN MEMUTUSKAN
DENGAN PERTOLONGAN TUHAN YANG MAHA ESA
AKAN BERUSAHA SEKUAT TENAGAKU
UNTUK MEMENUHI SEGALA KELEBIHANKU
DAN MENCUKUPI SEGALA KEKURANGANKU
SEMOGA TUHAN YANG MAHA ESA
MEMBERI KEKUATAN KEPADAKU
UNTUK TERUS MAJU PANTANG MUNDUR
SEBAGAI PUTERA BANGSA INDONESIA
YANG BERPANCASILAIS SEJATI
YANG BERDASARKAN PANCASILA
DAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945
DENGAN MENJUNGJUNG TINGGI HARKAT MARTABATKU,
AGAMAKU,
TANAH AIRKU,
BANGSAKU DAN NEGARAKU.

teori tata krama

Tata Krama dan Gaya Berbicara

Tata krama mungkin berhubungan dengan cara2 berbudaya orang Tiongkok di zaman dulu, sebagaimana diketahui dalam masyarakat feodal, kebudayaan Tionghoa itu dapat dibagi atas kebudayaan tinggi dan rendah yang digunakan berbeda melihat golongan2 masyarakat yang ada di dalam susunan feodalisme Tiongkok di zaman lalu. Golongan2 kasta ini terbagi secara jelas mulai dari zaman Dinasti Jin yang disebut dengan Masyarakat Men Di dan setelah Dinasti Tang berubah menjadi Masyarakat Ke Di sampai penghujung Dinasti Qing.

Jadi, gaya berbudaya mereka yang seperti anda lihat di serial Samkok maupun serial2 lainnya adalah budaya dan protokoler orang terpelajar ataupun bangsawan yang lebih tinggi dan lain dibandingkan dengan rakyat biasa ataupun budak (pelayan). Tentu saja ini bukan berarti rakyat biasa dan pelayan tidak ber-tatakrama di antara mereka, cuma protokolernya tidak serumit budaya tinggi tadi.

Mengenai gaya berbicara adalah erat kaitannya dengan perkembangan bahasa yang digunakan sehari2 pada masa tersebut. Di zaman lalu, bahasa Han klasik belum berkembang sempurna seperti sekarang ini, ini ditandai dari kosa kata dan karakter yang digunakan masih dalam bentuk mono-syllable di mana 1 kata dapat mengandung arti beberapa kata dalam bahasa sekarang ini, seperti kata2 bijak Konfusius yang singkat2 saja namun padat berisikan makna2. Bahasa klasik ini dinamakan Wen Yan Wen (bahasa klasik) atau Ya Yan (bahasa halus). Perkembangan bahasa Han dari zaman kuno sampai sekarang telah pernah saya tuliskan di artikel Bahasa Tionghoa beberapa bulan lalu.

Dalam sejarahnya, bahasa percakapan dan bahasa literatur (tulisan) menjadi terpisah perkembangannya. Sebelum Gerakan 4 Mei 1919, bahasa literatur adalah tetap menurut bahasa klasik dari zaman dulu, namun bahasa percakapan telah berkembang menjadi bahasa yang kita kenal sekarang. Bahasa percakapan sehari2 ini disebut Bai Hua Wen (bahasa umum sehari2). Setelah gerakan itu, barulah terjadi transformasi bahasa tulisan menjadi yang kita kenal sekarang. Namun bahasa klasik tidaklah punah, karena gerakan itu malah menjadikan bahasa klasik menjadi kekayaan sastra dan sejarah yang bernilai untuk didalami.

Bahasa klasik memang indah dan bernilai dalam bidang kesusastraan, sejarah dan budaya, namun tidak mungkin terus digunakan untuk percakapan sehari2 tanpa mengalami transformasi mengikuti tuntutan zaman. Sampai sekarang, masih banyak dan masih akan bertambah banyak lagi kosa kata yang akan ditambahkan ke dalam bahasa Han sesuai perkembangan zaman, seperti Dian Nau (komputer), Tai Kong Suo (pesawat ruang angkasa) dan masih banyak lagi yang tidak ada dan belum ada dalam kamus Kang Xi tahun 1710. Gaya berbicara juga tidak akan sama dari masa ke masa karena bahasa Han merupakan bahasa yang hidup dan penuh dinamika. 

PAGI itu, menyadari memiliki tugas tambahannya sebagai guru piket, seorang guru bergegas memasuki ruang kelas. Tujuannya sangat mulia: menyampaikan tugas yang dititipkan seorang guru yang berhalangan masuk kepada para siswa yang menjadi ampuannya.
Langkah semacam ini cukup strategis untuk menyelamatkan anak-didik agar tetap melakukan pembelajaran secara mandiri, sekaligus ”membungkam” kalau mungkin terjadi kegaduhan yang praktis mengganggu kelas lain.
Celakanya, bukannya respons sekadar ikut prihatin yang semestinya ditunjukkan para siswa, namun malah sorak kemenangan hanya karena Bu Guru pagi itu tidak jadi memberikan ulangan seperti yang dijanjikan. Sungguh, para siswa seperti tidak pernah terlatih memberikan empati secara imajinatif, semisal: pagi itu Bu Guru berhalangan hadir karena harus mendekap anaknya antre menunggu obat di puskesmas. Kalau kita mau merenung sejenak: apakah ini bukan gambaran serpihan paradoksal yang luput dari perhatian serius kita?
Menjadi rasional ketika orang tua seorang guru meninggal, guru yang lain tidak tega menyampaikannya di hadapan murid. Takut mendapat respons getir, menyakitkan. Kondisi semacam ini sangat menuntut teknik komunikasi tinggi agar harga diri guru tidak jatuh menggelepar di hadapan anak-didik. Di wilayah inilah kita bisa mengambil hikmah, bagaimana seorang guru senantiasa dituntut kampiun menyampaikan pesan-pesan moral agar anak-didik lebih bisa memberikan apresiasi yang semestinya.
Namun, realitas yang terjadi masih jauh dari harapan. Rasa empati siswa mustahil ditumbuhkan kalau perilaku para pendidik kurang menunjukkan keteladanan yang berarti. Guru yang sering terlambat masuk kelas, mudah meledakkan emosi, kurang pintar menerangkan, menyampaikan materi terlalu text-book, berwawasan sempit, suka meneror, gagal menjaga wibawa, serta sederet kelemahan lain, akan menyulut terjadinya degradasi tata krama.
Degradasi tata krama tidak hanya mudah kita temukan di lembaga pendidikan kita. Beberapa teman yang bekerja di industri mapan pernah mengeluhkan kesan serupa. Secara bergurau, seorang teman yang saban hari selalu berdasi mengeluh: sebelum kantornya kemasukan para siswa PKL, bau kamar kecilnya terjaga. Tetapi baru dua hari ada siswa magang di sana, berembus bau macam-macam. Tentu bukan rasa stroberi.
Ketika ada siswa magang yang bernasib sial menabrak pagar pada waktu mengendarai mobil, bukannya improvisasi rasa maaf yang muncul, tapi malah sikap ngotot ingin segera mengganti beban kerugian. Pernyataan-pernyataan yang secara tersirat maupun tersurat mengklaim pentingnya mempertahankan tata krama sebagai syarat kepemilikan adanya SDM yang unggul dan komparatif, semestinya tidak tersekap dalam wacana. Guru sebagai pendidik dan siswa sebagai subjek didik harus menyadari peran maksimalnya masing-masing.
Dalam bahasa sederhana: jika para guru mampu memberikan yang terbaik kepada para anak-didiknya, niscaya para siswa akan tahu diri sebatas apa memberikan imbalan apresiasi. Sebaliknya jika tidak memahami secara holistik terhadap perannya, akan bergegas berkaca: yang kami kerjakan belum apa-apa.


Sumber: Tata Krama Siswa » Agupena Jawa Tengah http://agupenajateng.net/2010/02/11/tata-krama-siswa/#ixzz3oohw3t4F
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike
 
 
Selama ini kita suka mencela orang barat yang katanya tak kenal unggah ungguh. Tak perlu terlalu jauh deh, yang deket-deket aja, orang Jogja sering menertawakan orang dari kultur Banyumasan hanya karena bahasa yang katanya ngapak dan tidak sopan. Alasan tidak sopan orang ngapak dan orang barat tuduhannya hampir mirip. Tidak ada perbedaan kasta dalam berbahasa. Kepada orang tua atau anak muda tetap menyebut you, kalo orang ngapak nyebutnya rika.
Makanya aku sempat kagum ketika melihat tata bahasa orang di daerah yang kulturnya terpengaruh feodalisme kraton. Dimana anak ke orang tua atau bawahan ke atasan begitu halus dan kadang pake acara nunduk-nunduk, biarpun sebaliknya tidak. Namun ketika aku melihat kenyataan sehari-hari, budaya tata krama itu sepertinya terkungkung di lingkungan kraton. Keluar dari situ, tetap saja budaya acak adut yang kita temukan.

Apa mungkin yang dinamakan tata krama cuma sebatas kita mengucap "nderek langkung" ketika lewat di depan orang lain. Tapi ketika harus antri di terminal atau ATM kita suka berdesak-desakan dan kadang main serobot. Kadang memang tidak terlihat di depan umum seperti bila kita mengurus surat apa di suatu instansi. Kelihatan antriannya lancar, tapi tahu-tahu ada yang nyelonong dari dalam meletakkan berkas dan langsung digarap oleh petugasnya. Sementara yang telah rela antri dibiarkan berdiri menunggu giliran. Budaya kita yang penuh sopan santunkah ini..?

Mencoba mengingatkan orang lain untuk tertib di tempat umum malah suka menimbulkan keributan. Seperti ketika mengingatkan orang yang merokok di bus umum, padahal di sebelahnya ada ibu-ibu mengendong bayi. Tak jarang aku temukan orang yang diingatkan malah ngomel. Mungkin memang tak ada gunanya mengingatkan orang di masyarakat yang main anarkis ini.

Kayaknya lebih baik kita mulai dari diri kita sendiri dan syukur keluarga. Karena jangankan mendidik orang lain yang tak kita kenal, mendidik anak pun suka susah sekali. Pengaruh lingkungan seringkali lebih dominan dibanding orang tua. Tak jarang anak di rumah begitu penurut tapi ketika keluar rumah, dia berubah menjadi liar.

Cara mendidik pun kadang kita serba salah ketika dihadapkan dengan tata krama. Menghaluskan istilah kepada anak kadang jadi salah paham. Sedangkan untuk mengajarkannya blak-blakan seperti orang barat atau ngapak dianggap saru. Untuk penggemar Sarmidi curanmor mungkin tak asing dengan cerita tentang penggunaan istilah mengetik, sebagai penghalusan kata hubungan suami istri ketika anak ada di dekatnya.

Cerita lain mungkin seperti pengalaman temanku yang anaknya kalo pengen throw big water suka teriak, mau beol bu...! Karena takut dianggap melanggar tata krama, terutama kalo pas ada tamu apalagi sedang makan, ibunya menyuruh anak untuk bilang "mau nyanyi" setiap kali kebelet.

Si anak pun nurut dan tak lagi memalukan orang tua di depan umum. Tapi ketika ortunya harus keluar kota, anak dititipkan di rumah neneknya. Tengah malam si anak bilang, "nek, aku pengen nyanyi..."

"Wah sudah tengah malam, cu. Nanti mengganggu tetangga," jawab si nenek.
"Ga mau pokoknya aku mau nyanyi. Dah kebelet banget nek..."

Melihat cucunya sampai merah muka nahan kebelet, si nenek berpikir si cucu mau nangis karena ingin nyanyi beneran. Trus dia bilang, "Ya udah nyanyinya disini saja deket telinga nenek. Jangan keras-keras tapi ya..."

Dan cucunya menurut...

Bertatakrama kok susah yah..?

Pelantikan Pasnekat